Tak Ada Fenomena Bulan Purnama pada Februari, Kenapa?

JAKARTA - Bulan melewati fase yang berbeda selama bulan Hijriah (bulan sabit baru, kuartal pertama, purnama, kuartal kedua, dan lain-lain). Fase ini dapat berubah setiap hari tergantung pada perubahan posisi bulan.

Dilansir dari The Peninsula, fase bulan purnama terjadi satu kali dalam bulan Hijriah dan terjadi satu atau dua kali dalam bulan Gregorian menurut Qatar Calendar House (QCH).

BERITA TERKAIT +

Februari ini nyatanya tidak dapat menyaksikan fase bulan purnama. Para astronom menganggapnya ini merupakan fenomena langka dan telah terjadi terakhir kali pada Februari 1999. Menurut ahli astronomi di QHC, Dr. Beshir Marzouk ini akan terjadi lagi pada Februari 2037.

Fenomena astronomi langka ini hanya terjadi pada Februari karena waktu rata-rata antara dua bulan penuh adalah sekira 29,5 hari. Sebagian besar bulan Gregorian adalah antara 30 atau 31 hari dan Februari adalah 28 atau 29 tahun kabisat.

Baca juga: Matahari yang Bersinar Suatu Hari Akan Padam, Benarkah?

Bulan Februari bisa tidak terjadi bulan Purnama seperti di tahun ini jika Januari memiliki dua bulan penuh yang disebut Blue moon, maka Maret atau April tahun yang sama akan memiliki dua bulan yang penuh.

Baca juga: Ternyata! Alam Semesta Semakin Meluas Dijelaskan Alquran dan Sains

Fenomena astronomi ini penting karena memvalidasi perhitungan astronomi yang digunakan untuk menghitung orbit benda angkasa. Apalagi saat memvalidasi perhitungan kalender Hijriah, di mana fase bulan purnama hanya terjadi pada pertengahan bulan Hijriah.

Seperti yang diketahui awal dan akhir bulan Hijriah bergantung pada gerak bulan di orbitnya mengelilingi Bumi, yang diperkirakan Bulan menyelesaikan satu siklus setiap 29,5 hari dan panjangnya adalah saat bulan Hijriah.

(ahl)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments