Smartfren Mulai Sebar Teknologi Baru untuk 4G

Jakarta - Smartfren mulai melakukan peningkatan jaringan dengan menerapkan teknologi terbaru dari antena Massive MIMO secara komersil yang dimulai sejak Januari 2018. Teknologi ini diklaim lebih baik ketimbang 2x2 MIMO maupun 4x4 MIMO.

Peningkatan teknologi jaringan yang disebut 4G+ ini sejalan dengan rencana Smartfren untuk menambah jumlah pengguna tahun ini sebanyak dua kali lipat, dari 12 pelanggan menjadi di atas 20 juta pelanggan.

"Kita akan menambah jumlah BTS sesuai dengan jumlah pelanggan dari bulan ke bulan dan juga kita hari ini yang akan dibicarakan adalah MIMO technology sehingga kita mampu meningkatkan kapasitas," ujar Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Smartfren, di Jakarta,Kamis (8/2/2018).

"Dengan bertambahnya jumlah pelanggan kami yang meningkat, tidak akan mengganggu pelayanan kami, justru memberikan layanan yang lebih," sambungnya.

Dijelaskan oleh Chief Technical Officer, Christian Daigneault, Massive MIMO memiliki banyak beam atau jalur yang bisa diterima oleh perangkat sehingga bisa meningkatkan stabilitas dan koneksi pada handset dengan kecepatan rata-rata per pengguna hingga 40 Mbps.

"Massive MIMO perbedaan mendasarnya adalah memiliki banyak beam ataupun jalur untuk bisa langsung diterima antena ke pelanggan atau handset. Jika biasanya hanya satu jalur, sekarang banyak jalur. Pada akhirnya akan meningkatkan kualitas stabilitas koneksi dari antena ke handset," ujarnya.

Antena yang menggunakan frekuesi time division duplex (TDD) tersebut dimanfaatkan di sekitar gedung tinggi dengan ketinggian 30 lantai. Jaraknya idealnya sendiri bisa mencapai radius 100 meter agar bisa mendapatkan koneksi yang stabil.

Untuk saat ini antena Massive MIMO Smartfren baru disebar di kawasan Ibu Kota Jakarta dan telah dipasang di sekitar 40 gedung. Smartfren tak menutup kemungkinan untuk memperluas cakupan teknologinya selama kawasan tersebut memiliki basis pengguna cukup dan kebutuhannya mendesak.

"Pasti. Jadi contohnya Medan punya kapasitas dan laku keras kenudian trafiknya tinggi di suatu gedung-gedung di Medan ya saya pasang MIMO di sana. Karena MIMO adalah cara efektif untuk memberika kapasitas dengan kondisi BTS yang ada," ungkap Munir Syahda Prabowo, Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren.

Munir juga menjelaskan perbedaan antara jaringan yang tak menggunakan Massive MIMO dengan yang menggunakan Massive MIMO.

"Kalau tidak menggunakan Massive MIMO itu rata-rata, karena sudah banyaknya pelanggan maka kita mendapatkan 2 sampai 3 Mbps untuk LTE, itu pun tidak stabil kadang turun jadi 1 Mbps. Setelah kita pasang MIMO itu perbedaannya sangat signifikan," imbuhnya.

Sementara itu saat melakukan uji coba secara langsung di gedung Hotel Millenium, Jakarta, menggunakan aplikasi Speedtest, teknologi Massive MIMO memberikan kecepatan unduhan mencapai 36,40 Mbps dan unggah 6,17 Mbps.

Smartfren menargetkan pemasangan di 200 gedung di Jakarta hingga akhir tahun ini. Pemasangan itu sendiri termasuk dalam rencana pembangunan 10.000 BTS (base transceiver station) yang akan dibangun oleh perusahaan di 2018.

Selain mengumumkan teknologi pada jaringannya, Smartfren juga turut memperkenalkan sistem customer experience management (CEMS) sebagai pengelolaan big data. (ega/ega)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments