Perkenalkan Dr. Basch, sang Penemu Alat Ukur Tenanan Darah

JAKARTA - Jika Anda pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa tekanan darah, maka tidak asing apabila dokter membungkus lengan Anda menggunakan semacam manset. Alat tersebut dinamakan Sphygmomanometer, yang ternyata penemunya adalah seorang dokter bernama Samuel Siegfried Karl Ritter von Basch.

Dilansir dari MedNorthWest, Dr. Von Basch lahir di Praha 9 September 1837 dan ia dilatih di Wina dan Praha. Sekira 1860-an, ia menjadi kepala ahli bedah di rumah sakit militer Meksiko yang secara sukarela melakukan tugasnya.

BERITA TERKAIT +

Pada saat pembunuhan di Perang Dunia 1 sedang terkenal, Maximilian seorang kaisar dari Meksiko menyadari bahwa beberapa lamanya di Meksiko akan menentukan nasibnya. Ia menugaskan Dr Basch, Letnan Ernst Pitner, dan Major Becker untuk menyimpan catatan harian tentangnya.

Saat terjadi eksekusi terhadap Maximilian, Dr. Bach pergi ke Austria sambil menunggangi kudanya bersama tubuh Kaisar. Ternyata Bacsh kehilangan memorandumnya karena dikuasai oleh orang-orang Meksiko, Basch tiba pada 26 November 2016.

Baca juga: Evangelista Torricelli sang Penemu Alat Pengukur Tekanan Atmosfer

Selanjutnya, Dr. Von Basch pergi ke Eropa dan menjadi asisten profesor di Universitas Wina, sekolah yang di mana Albert Einstein mengajar. Dokter telah lama mengetahui bahwa darah beredar di sekitar tubuh saat di bawah tekanan, namun tidak ada cara yang tidak invansif untuk mengukur tekanan tersebut.

Peredaran darah dalam tubuh telah menjadi bahan studi selama ribuan tahun. Bahkan di zaman kuno, orang China menyadari fakta bahwa darah beredar melalui pembuluh darah dan mengembangkan teori tentang bagaimana sistem semacam itu dapat bekerja.

Baca juga: Kisah Alessandro Volta sang Penemu Batu Baterai

Pada tahun 1881, Dr. Von Basch menemukan sebuah bola berisi merkuri atau air yang didorong ke atas arteri pergelangan tangan dan dihubungkan ke alat ukur tekanan, sehingga saat mendorong cukup keras untuk dapat diketahui tekanan darahnya. Tapi, dokter menolak teknologi tersebut karena terlalu bertekanan tinggi dan juga ia percaya bahwa merasakan denyut nadi hanya dengan jari saja dapat melakukan diagnosa.

Akhirnya, alat tersebut disempurnakan menggunakan manset tiup yang dikenal sekarang dan mengaitkannya ke ruang merkuri. Tahun 1901 sphygmomanometer digunakan secara luas walaupun masih diukur tekanan sistoliknya.

(kem)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments