Nekat Jual Laptop dan Kuras Tabungan Rp 458 Juta Demi Bitcoin

Jakarta - Pada musim panas 2017, berbekal modal yang dimilikinya, seorang pemuda 24 tahun menargetkan menjadi penguasa cryptocurrency setelah melihat keisengannya berinvestasi Bitcoin cukup menjanjikan.

Kingsley Advani, nama pemuda itu, menjual harta paling berharga miliknya, sebuah laptop dan headphone. Dia juga mengosongkan akun bank miliknya dengan mengambil seluruh ribuan dolar yang ada di dalamnya.

Sebanyak USD 34 ribu (sekitar Rp 458 juta) uang yang dimilikinya, diinvestasikan untuk berbagai cryptocurrency seperti Bitcoin dan startup yang menggarap solusi terkait dengan teknologi.

Sosoknya pun menarik perhatian di kalangan investor. Ketika kebanyakan pemuda seusianya sedang berupaya meniti karir, Advani mendapatkan apa yang dicita-citakannya: menjadi penasihat startup cryptocurrency.

Seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (4/2/2018), pemuda ini banyak melakukan perjalanan bolak-balik ke London, New York dan San Francisco, bertemu dengan para pemimpin industri dan menjadi penasihat startup yang potensial membuat terobosan dalam teknologi blockchain.

"Saya pikir sangat sedikit orang, dalam sejarah manusia, di usia 20-an tahun punya kesempatan untuk berinvestasi pada aset yang punya pertumbuhan tinggi," ujar Advani.

Diciptakan pada 2008, Bitcoin menjadi sistem pembayaran yang memungkinkan orang melakukan transaksi keuangan secara anonim. Tidak ada bank maupun perantara, dan transaksi akan direkam dalam 'buku' besar digital yang disebut blockchain, yang menyimpan seluruh informasi transaksi secara transparan.

Di luar berbagai kontroversinya, selalu ada orang-orang yang tertarik dengan cryptocurrency dan mau mengambil risiko, seperti Advani. Pemuda asal London, Inggris ini tertarik mempelajari blockchain dan cryptocurrency. Di 2012, setelah seorang teman memperkenalkan Bitcoin kepadanya, Advani mulai melihat potensi dari teknologi cryptocurrency.

"Ini seperti pemberontakan terhadap keuangan tradisional," kata Advani.

Lulusan Stanford University ini meyakini, penciptaan Bitcoin di 2008 bukanlah sebuah kebetulan, karena masa itu merupakan masa puncak krisis terburuk sejak krisis keuangan global melanda.

"Anda tidak perlu terpusat pada bank untuk mengirim uang. Anda punya teknologi ini untuk mengirim uang melalui cryptography. Jadi tidak seperti bank, cara ini lebih cepat, murah dan aman," sebutnya.

Sejak minatnya terhadap cryptocurrency tumbuh, Advani rajin membaca berbagai laporan dan mengawasi pasar mata uang virtual. Dia tidak ingin ketinggalan momen satu detik pun.

Hal itu juga yang memicu kenekatannya menginvestasikan seluruh tabungan dan sebagian pemasukan dari profesinya pada sebuah startup software.

"Setiap bulan, saya menantikan cek gaji dan langsung mengalokasikannya ke sana (investasi cryptocurrency)," ujarnya.

Sejauh ini, pertaruhannya terbayar. Saat dirinya berinvestasi Bitcoin, nilainya USD 4 ribu per koin (sekitar Rp 54 juta). Per Februari 2018, mata uang virtual tersebut punya nilai dua kali lipat per koinnya.

Dalam performa terbaiknya selama enam bulan, Advani menyaksikan kekayaannya bertambah hingga lebih dari USD 1 juta, meski memang nilainya fluktuatif tergantung kondisi pasar. (rns/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments