Upaya Sushi Jauhkan Petani Rumput Laut dari Tengkulak

Jakarta - Keberadaan tengkulak sebagai satu-satunya akses untuk menjual produk seakan menjadi mimpi buruk bagi sebagian petani rumput laut di Indonesia.

Maka dari itu, Shushi.asia, startup muda berbasis website asal Denpasar, Bali berupaya mengubah sistem distribusi rumput laut dengan menghilangkan tengkulak yang oportunis dalam proses tersebut.

Melalui platform online yang mereka miliki, Shushi.asia akan berperan sebagai aggregator untuk menghubungkan para petani kecil dengan pemain pasar secara langsung lewat ecommerce mereka.

"Pada 2016, Indonesia berhasil menghasilkan 11 juta ton rumput laut, namun jumlah yang besar tersebut tidak sesuai dengan kondisi petani itu sendiri," ujar Azhari Dadas selaku CEO Shushi.asia saat ditemui detikINET dalam ajang Amplifive.

Menurutnya, selain permasalahan keberadaan tengkulak yang cenderung menekan harga sebagai satu-satunya akses menuju pasar, sistem produksi yang tidak memenuhi standar pun menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesulitan yang dialami oleh para petani.

Tidak hanya dari sisi petani, Azhari pun mengungkapkan bahwa konsumen di Indonesia mempunyai kesulitan terkait dengan mencari ketersediaan rumput laut. Selain itu, kualitas yang mereka dapatkan pun tak jarang berbeda-beda.

Maka dari itu, Shushi.asia tidak hanya mengakomodir ecommerce, tapi juga informasi-informasi mengenai rumput laut yang ada di Indonesia di dalam website mereka.

"Usia kami masih sangat muda, baru 3 bulan, namun kami telah bekerja sama dengan 12 keluarga petani rumput laut untuk menghasilkan 3 jenis rumput laut dengan jumlah pasokan mencapai 630 kg," kata Azhari.

Baginya, kedekatan Shushi.asia dengan petani rumput laut yang sudah terjalin menjadi hal yang penting untuk memudahkan komunikasi, kerja sama, serta edukasi.

Selain itu, kerja sama dengan influencer lokal, seperti Kepala Desa dan kepala kelompok petani rumput laut juga memiliki peranan besar untuk mengajak para petani yang lain untuk ikut bergabung.

Shushi.asia pun sudah berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian, sekaligus tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa startup lokal Tanah Air.

Saat ini, mereka tengah fokus pada kegiatan B2B (business to business) dengan menyediakan produknya ke beberapa supermarket di Bali serta industri seperti makanan, obat-obatan, serta kesehatan.

Mereka pun tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor ke luar negeri di masa yang akan datang.

"Orang-orang Jepang justru ingin memakan rumput laut yang berasal dari Indonesia yang mereka anggap masih bagus kualitasnya, karena di negara mereka rumput lautnya sudah tercemar," ujarnya.

"Kami masih sangat muda, sangat semangat, dan sangat yakin untuk menyelesaikan masalah tersebut," sebutnya.

Azhari juga sempat mengungkap fakta unik mengenai nama startupnya. Shushi punya arti penuh makna, atau berarti dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa China, sushi berarti lebih nyaman.

Ketertarikan para pendiri Shushi.asia melihat sepak terjang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun menjadi alasan mereka untuk memilih nama tersebut. (rns/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments