Serap 99,96% Cahaya, Burung Cenderawasih Berbulu Sangat Hitam

JAKARTA - Burung cenderawasih, asli Indonesia timur, Papua Nugini, dan Australia timur telah berevolusi sehingga warna hitam pada bulunya sangatlah pekat. Burung cenderawasih jantan dapat menyerap 99,96% cahaya, membuatnya tampak seperti tirai gelap dua dimensi bila dilihat lurus ke atas.

Dakota McCoy, penulis utama dan ilmuwan penelitian, mengatakan bahwa hanya burung cenderawasih jantan yang memiliki bulu hitam pekat. Penelitian tersebut telah terbit di Nature.com.

BERITA TERKAIT +

Burung cenderawasih jantan memiliki ritual kawin yang rumit dengan lagu dan tarian. Untuk menarik perhatian burung betina, yang biasanya berwarna cokelat kusam, mereka menampilkan sebuah pertunjukan dengan memperlihatkan bulu-bulu mereka yang menyerupai layar gelap.

Beberapa bulu lainnya yang berwarna biru terlihat kontras dengan warna hitam pekat tersebut, sehingga tampak seperti hiasan. Burung cenderawasih betina akan memperhatikannya dan hanya memilih jantan yang memiliki hiasan terbaik.

Baca juga: Mengapa Burung Beo Bisa Berbicara?

Bulu super hitam itu bekerja sebagai ilusi optik dan tampak paling hitam jika dilihat dari sisi lurus ke depan. Oleh karena itu, selain memamerkan bulunya, mereka juga harus melakukan tarian yang rumit, yang harus terus menunjukkan sisi hitamnya pada betina, untuk memastikan agar betina tidak bisa melihat dari samping.

Tidak ada cahaya yang memantul di bulu hitam tersebut, sehingga bagian bulu berwarna biru tampak bersinar kontras. Jika warna biru tidak terlihat cukup bagus, burung betina cenderung menolaknya.

Baca juga: Burung Liar Tertua di Dunia Bertelur di Usia 67 Tahun

Dalam ribuan generasi, hanya burung dengan gen paling hitamlah yang mendapatkan pasangan. Pada akhirnya, burung cenderawasih tampaknya berevolusi memiliki bulu yang sebanding dengan bahan tergelap yang pernah ada, yaitu Vantablack dan silikon hitam.

Ketika diteliti dengan mikroskop, struktur bulu-bulu tersebut ditemukan sangat berbeda dari bulu pada umumnya. Para peneliti mengatakan, mereka terlihat seperti miniatur terumbu karang atau tanaman sikat botol yang padat.

Hal tersebut membuat permukaan bulu bergerigi dan kompleks. Struktur itu juga menyebarkan cahaya, seperti ‘perangkap cahaya mikroskopik’.

Bulu itu tidak memantulkan cahaya, melainkan menangkap dan meresapnya. Warna hitamnya tidak hanya berasal dari perwarnaan dan pigmentasi, tetapi juga dari permukaan material yang tidak rata, dalam proses ‘penyerapan struktural’ yang cara kerjanya bertolak belakang dengan cermin. Demikian dilansir dari International Business Times.

(ahl)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments