Menilik Sejarah Senapan Mesin

JAKARTA - Senapa mesin dikembangkan pada akhir abad ke-19. Sebagian besar senapan mesin adalah senjata belt-fed yang menembak dari 500 sampai 1.000 putaran per menit dan akan terus menyala selama pemicunya ditahan atau sampai pasokan amunisi habis.

Senapan mesin modern dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Senapan mesin ringan, yang juga disebut senjata otomatis regu (squad automatic weapon atau SAW), dilengkapi dengan bipod dan dioperasikan oleh satu tentara. Senapan mesin sedang, terpasang pada bipod atau tripod, dan menembakkan amunisi dengan kekuatan penuh.

BERITA TERKAIT +

Pada Perang Dunia II muncul istilah "senapan mesin berat" untuk senapan mesin water-cooled yang diikat dengan sabuk, digunakan oleh pasukan tentara khusus, dan dipasang di atas tripod. Sejak 1945, istilah tersebut mengacu pada senjata otomatis yang menembakkan amunisi lebih besar

Perkenalan senjata api di akhir abad pertengahan memunculkan upaya untuk merancang senjata yang bisa menembak lebih dari satu tembakan tanpa mengisi ulang. Pada 1718 di London, James Puckle, mematenkan senapan mesin yang kemudian benar-benar diproduksi.

Pada abad ke-19 muncul sejumlah penemuan senapan mesin di Amerika Serikat, beberapa di antaranya digunakan dalam Perang Saudara Amerika. Senapan yang paling sukses adalah senapan Gatling, yang dalam versi terbarunya mencakup pelor modern, berisi peluru, bahan pembakar, dan sarana pengapian.

Pada 1880, bubuk tanpa asap memungkinkan untuk mengubah senapan mesin yang dipegang oleh tangan menjadi senjata yang benar-benar otomatis. Hiram Stevens Maxim dari Amerika Serikat adalah penemu pertama yang menggabungkan efek ini dalam desain senjata. Senapan mesin Maxim (sekira 1884) dengan cepat diikuti oleh yang lain – Hotchkiss, Lewis, Browning, Madsen, Mauser, dan senjata lainnya.

Selama Perang Dunia I medan perang mulai didominasi oleh senapan mesin, umumnya diikat dengan sabuk, water-cooled, dan dari kaliber yang sesuai dengan senapan. Tidak ada banyak perubahan pada senapan mesin sepanjang Perang Dunia I menuju Perang Dunia II.

Sejak saat itu, inovasi seperti tubuh senapan dengan lembaran logam dan air-cooled, barel yang dapat berubah dengan cepat, membuat senapan mesin lebih ringan dan lebih dapat diandalkan, serta menembak dengan cepat. Namun, tetap beroperasi dengan prinsip yang sama seperti pada zaman Hiram Maxim.

Perkembangan senapan mesin konvensional telah diperlambat oleh fakta bahwa desain senapan mesin yang ada cukup untuk sebagian besar tujuan, walaupun perkembangan signifikan terjadi terkait dengan senjata amunisi, senjata anti-armor dan anti-rudal yang tidak berdaya.

(kem)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments