Ketika Macet di Surabaya Coba Disulap Jadi Ladang Duit

Jakarta - Kemacetan lalu lintas yang biasanya jadi permasalahan utama di kota-kota besar di Indonesia, kini malah dijadikan ladang bisnis oleh PayRide, startup asal Surabaya.

"Terjebak dalam kemacetan parah tentu memakan uang yang tidak sedikit. Dengan sekian banyaknya waktu yang terbuang di jalan, pengemudi harus menanggung biaya bahan bakar yang terbuang sia-sia," kata Agus Widjaja, founder dan CEO PayRide, Senin (8/1/2018).

Dijelaskan olehnya, startup yang ia bangun coba menghasilkan uang bersama-sama dengan para pemilik mobil yang mau dijadikan sebagai billboard berjalan. Di satu sisi, pengiklan pun katanya bisa melacak keberadaan mobil tempat mereka berpromosi lewat aplikasi mobile.

"Platform kami ingin mengubah hal ini dengan memberikan kesempatan baru bagi pengemudi untuk mendapatkan penghasilan tambahan lewat periklanan di bodi mobil. Kami rasa, ini adalah solusi yang sama-sama menguntungkan, baik bagi pengemudi maupun pengiklan," jelas Agus lebih lanjut.

Setelah mendaftar di PayRide, pengemudi diberikan kebebasan untuk langsung memilih iklan yang sedang ditawarkan oleh PayRide beserta dengan desain stiker iklan tersebut.

Sementara, pengiklan berhak memilih jenis wrapping untuk materi promosi mereka. Setelah mobil selesai dilabeli stiker iklan dan siap turun ke jalan, maka pelacak GPS akan memberikan analisis real-time yang mengukur impression iklan tersebut.

Tidak seperti para pesaingnya, PayRide menggunakan perangkat pelacak GPS khusus dan tidak bergantung pada GPS di ponsel pengemudi. Menurut Agus, strategi perusahaan ini justru memberikan analisis yang lebih akurat dan terpercaya bagi para pengiklan, serta mencegah kemungkinan perusakan data dari pihak manapun.

"Perusakan data adalah masalah yang cenderung terjadi pada sistem GPS ponsel pintar. Tak hanya itu, perangkat PayRide juga lebih mudah digunakan oleh pengemudi karena mengandalkan daya dari kendaraan, alih-alih menghabiskan baterai ponsel," papar Agus lagi.

Tidak seperti startup sejenisnya di Indonesia, PayRide juga membayar pengemudi berdasarkan hasil impression iklan, bukan berdasarkan jarak per kilometer. Ketika menghitung imbalan bagi pengemudi, aplikasi akan mengkalkulasikan faktor letak jalan dan jam-jam mengemudi.

Misalnya, pengemudi akan mendapatkan imbalan lebih tinggi saat mengemudikan mobil di jalan yang ramai dan pada jam sibuk, karena iklan mereka bisa terlihat oleh lebih banyak pengguna jalan.

"Dengan PayRide, perusahaan bisa mengiklankan merek mereka di manapun dan kapanpun. Kampanye ini juga hemat biaya karena anggaran yang dikeluarkan oleh pengiklan akan sesuai dengan impression yang mereka dapatkan," jelas co-founder PayRide, Ivaline Tedjo.

Namun lebih dari itu, keunggulan utama PayRide terletak pada strategi pemasaran lokalnya. Meskipun rencananya akan diperluas secara nasional, aplikasi ini dimulai di Jawa Timur. PayRide menawarkan pendekatan yang lebih akurat bagi para pelaku bisnis untuk menyediakan konten relevan bagi pelanggan mereka.

Dengan memulai bisnis di Surabaya, PayRide memiliki tujuan untuk memberdayakan pelaku bisnis yang ingin meraih pangsa pasar lebih besar. Saat ini, PayRide memiliki basis pengguna sebanyak 300 pemilik kendaraan. Harapannya, mereka bisa menggaet lebih banyak pengemudi untuk bergabung setiap bulannya.

"Kami melihat peluang besar di sini karena kami menawarkan sesuatu yang berbeda di ruang iklan regional. Bisnis kami mengakomodasi kebutuhan pengiklan dan menyampaikan pesan mereka dengan cara yang unik, eye-catching, dan efektif pada mobil. Kami juga membantu pengemudi mendapatkan penghasilan sampingan," pungkas co-founder PayRide Jimmy Alim. (rou/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments