Kehadiran Manusia Ternyata Pengaruhi Perputaran Bumi

Jakarta - Studi terbaru menunjukkan, tanda-tanda kehidupan diklaim dapat memengaruhi seberapa cepat planet yang dihuni berputar.

Sebagaimana kita tahu, Bumi membutuhkan waktu 24 jam dalam satu hari untuk berputar penuh pada porosnya. Meskipun kenyataan yang diketahui kini seperti itu, namun Bumi sempat berputar jauh lebih cepat, membutuhkan waktu hanya dua hingga tiga jam untuk memenuhi satu harinya.

Adanya gaya gravitasi yang dihasilkan oleh Matahari dan Bulan berperan besar dalam memperlambat perputaran Bumi selama miliaran tahun hingga sampai pada kecepatannya saat ini, yang dikenal sebagai efek tidal breaking. Sampai saat ini pun, Bumi terus mengalami perlambatan dengan kisaran 0,0018 detik tiap abad.

Menariknya, studi terbaru menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa faktor lain yang mampu mempercepat atau memperlambat perputaran Bumi pada porosnya.

Salah satu contohnya adalah, peningkatan ketinggian permukaan air laut akibat dari mencairnya gletser dapat menggeser poros Bumi, sehingga dapat mempercepat berputarnya planet tersebut. Selain itu, atmosfer juga memiliki peran dalam memengaruhi panjang hari di Bumi.

"Hal ini cukup mengejutkan, walaupun dengan massanya yang mencapai 50 triliun ton, atmosfer pasti memiliki suatu pengaruh," ujar Caleb Scharf, ahli astrobiologi dari Columbia University, New York.

Pengaruh yang diberikan oleh atmosfer itu sendiri dilakukan melalui pengaturan suhu Bumi, baik yang sifatnya menyejukkan maupun menghangatkan, dengan mengubah tekanannya saat Matahari tengah menyinari.

Salah satu penyebabnya, menurut Scharf, adalah adanya kehidupan di dalam Bumi yang menghasilkan gas seperti oksigen. Gas ini memengaruhi bagaimana perilaku atmosfer dalam menurunkan serta menaikkan suhu Bumi, yang nantinya berimbas pada perputaran planet tersebut.

Lalu, hadirnya oksigen juga dapat membantu sinar ultraviolet untuk memicu keberadaan ozon, yang berperan besar dalam menyerap sinar Matahari untuk meningkatkan suhu atmosfer.

"Bayangkan sebuah planet dengan kandungan oksigen yang mulai menunjukkan tanda kehidupan, namun masih berputar sangat cepat. Saat ozon terbentuk, lapisan ini akan membantu atmosfer dalam meningkatkan getaran yang dihasilkannya," kata Schraf.

"Semakin besar getaran yang dihasilkan, massa atmosfer akan naik sehingga gaya gravitasi pun akan ikut meningkat. Imbasnya, perlambatan perputaran planet tersebut," ucapnya menambahkan, seperti detikINET kutip dari Space, Rabu (3/1/2018).

"Sangat gila membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi bahwa biologi, atau biosfer, dapat memengaruhi rotasi sebuah planet dengan mengubah komposisi atmosfer, namun itu memang tidak tampak mustahil," pungkas Schraf. (rns/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments