Ini Dampak Video Lemot Bagi Pengguna

Jakarta - Tingginya akses layanan streaming video, belum dibarengi dengan kecepatan dan kestabilan internet untuk menikmatinya. Alhasil proses buffering lama yang membuat video lemot masih sering dialami pengguna.

Seperti diketahui, hadirnya berbagai platform streaming video seperti Netflix dan Hulu semakin menarik banyak user untuk menonton sebuah tayangan secara online.

Tidak hanya itu, hadirnya platform tersebut dalam berbagai perangkat mobile seperti smartphone dan tablet pun membuat user mengharapkan akses yang cepat tanpa terputus, kapan pun dan dimana pun.

Sebuah studi oleh Akamai dan Sensum menunjukkan, konten video beresolusi tinggi dapat meningkatkan hubungan penyedia layanan dengan penonton lebih dari 10%.

Sedangkan saat buffering terhambat, maka kenyamanan penggunannya akan jatuh hingga 14%, lebih besar dari persentase peningkatan kenyamanan user saat video yang ditontonnya memiliki kualitas yang baik.

Angka ini bukannya muncul tanpa alasan. Studi tersebut berhasil menemukan fakta bahwa buffering dapat menurunkan reaksi positif dari user, seperti rasa senang (14%), serta fokus dan perhatian (7%).

Lambatnya jalan video juga berakibat pada meningkatnya reaksi negatif penggunanya, seperti rasa terganggu (9%), kesedihan (7%), bahkan terguncang (27%).

Jika hal ini terus-menerus dialami oleh para user, jawabannya mudah ditebak, mereka akan meninggalkan layanan tersebut.

Data menunjukkan bahwa 67% responden akan berhenti menggunakan layanan video jika terjadi buffering berkali-kali. Bahkan, 9% diantaranya tidak memberikan kesempatan kedua bagi platform tersebut.

Hanya 7% dari sampel yang masih mampu bertahan untuk memilih tidak menghiraukan lambatnya laju video yang ditampilkan.

Hasil studi tersebut menunjukkan tuntutan user atas pengalaman menonton video bebas buffering dengan kualitas tinggi.

"Pengelolaan gambar, API dan akselerasi aplikasi pada seluler, hingga prediksi percepatan media mutlak dimiliki oleh para penyedia layanan," ujar Adam Riley, Sales Director for South Asia and ANZ Akamai Technologies, dalam keterangan yang detikINET kutip Senin (8/1/2017).

"Aspek-aspek tersebut dapat membantu meningkatkan pengiriman konten, menawarkan streaming yang berkualitas ke pelanggan untuk dapat disiarkan di seluruh dunia, sekaligus meminimalisir latensi jaringan dan hambatan Internet," tambahnya.

Pada waktu yang bersamaan, pendekatan yang proaktif terhadap keamanan siber pun perlu diadopsi untuk memastikan perlindungan aset, seperti data perusahaan dan pengguna. (rns/rns)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments