Diblokir di Iran, Bos Telegram Curhat

Jakarta - Telegram harus dipusingkan saat pergantian Tahun Baru kemarin. Persoalannya dipicu terkait layanannya yang dituding sebagai dalang atas berbagai kekerasan yang terjadi di Iran. CEO Telegram Pavel Durov pun menuangkan pandangannya melalui salurannya.

Diketahui, situasi di Iran tengah tidak kondusif. Di negara tersebut terjadi gelombang aksi demonstrasi antipemerintah karena situasi ekonomi Iran. Melemahnya harga minyak di pasaran berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan janji reformasi yang digaungkan Presiden Hassan Rouhani.

"Dalam catatan yang kurang menyenangkan, pihak berwenang di Iran mulai memblokir Telegram saat ini setelah kami secara terbuka menolak untuk menutup saluran pemrotes Iran yang damai, seperti @sedaiemardom," kata Durov seperti dikutip detikINET lewat salurannya di Telegram, Selasa (2/1/2018).

Durov melanjutkan, ia mengungkapkan rasa bangganya karena Telegram digunakan oleh ribuan saluran oposisi besar di seluruh dunia. Disampaikannya, Telegram mengganggap kebebasan berbicara sebagai hak asasi manusia yang tidak terbantahkan dan lebih suka diblokir di negara oleh otoritasnya daripada membatasi ekspresi damai sebagai pendapat alternatif.

"Ketika sampai pada kebebasan berbicara, Telegram sama tak terbatasnya dengan aplikasi mobile," sebutnya.

Pada 2015, setelah Apple dan Google menghubungi Telegram usai serangan yang terjadi di Paris, Prancis, pihaknya menambahkan persyaratan layanan yang paling sederhana di aplikasi: tidak ada panggilan untuk kekerasan, tidak ada porno, dan tidak ada pelanggaran hak cipta pada saluran siaran publik.

"Sejak saat itu, Telegram telah memblokir ratusan saluran publik yang penuh kekerasan setiap hari (termasuk yang dilaporkan dalam @isiswatch), memastikan peraturan kami diterapkan secara adil dan itu adil utnuk semua pemain, terlepas dari ukuran dan afiliasi politik mereka," tutur pria yang pernah menyambangi Indonesia pada 2017.

Mengenai kejadian di Iran, Durov mengatakan, Telegram telah menonaktifkan @amadnews, saluran publik yang berisi ajakan menggunakan bom molotov dan senjata api melawan polisi.

"Admin saluran tersebut menghubungi kami setelah mengetahui dinonaktifkan, meminta maaf karena melanggar peraturan kami dan berjanji untuk tidak mempromosikan kekerasan di kedepannya. Hasilnya, mereka mampu mengumpulkan kembali sebagian besar pelanggan mereka (800 ribu) di saluran yang damai, kita menyambutnya," ucap Durov.

Unsur netralitas dan penolakan Telegram untuk berpihak pada konfilik semacam itu dapat menciptakan musuh. Pejabat Iran telah mengajukan tututan pidana kepada Durov pada September kemarin karena membiarkan Telegram menyebarkan berita tanpa sensor dan propaganda ekstrimis.

"Hari ini mereka memberlakukan blok di Telegram-tidak jelas apakah permanen atau temporer," sebutnya.

"Namun, melakukan hal yang benar lebih penting daripada mencoba menghindari musuh. Kita sangat beruntung bisa menerapkan prinsip secara konsisten di tahun 2017. Kami akan terus melakukannya di tahun 2018 dan seterusnya," ungkap pria yang hobi mengenakan kaos hitam ini. (agt/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments