Telegram Tutup Channel yang Jadi Dalang Aksi Kekerasan di Iran

Jakarta - Pendiri Telegram Pavel Durov menyanggupi permintaan pemerintah Iran untuk menutup saluran Telegram yang disebut sebagai dalang atas berbagai kekerasan yang terjadi belakangan ini.

Saluran Telegram yang diketahui bernama Amadnews ini dikatakan sebagai saluran yang mendorong pengikutnya untuk melancarkan aksi melempar bom molotov ke arah polisi ketika terjadi demonstrasi. Karenanya, penutupan channel ini diyakini mampu membendung terjadinya kerusuhan lebih lanjut.

Instruksi penutupan saluran Telegram ini sendiri dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Iran Mohammad-Javad Azari Jahromi. Lewat kicauannya di Twitter, Jahromi mengirim pesan kepada Durov untuk menutup channel tersebut.

"Sebuah saluran Telegram mendorong perilaku kebencian, menggunakan molotov, pemberontakan bersenjata, dan kerusuhan sosial. Sekarang adalah waktu untuk menghentikan dorongan tersebut melalui Telegram," cuitnya seperti dikutip detikINET dari Recode, Minggu (31/12/2017).

Tak butuh waktu lama bagi Durov untuk membalas pesan Jahromi. Lewat pesan balasan di Twitter, Durov menyanggupi permintaannya.

"Panggilan untuk kekerasan adalah hal yang dilarang oleh peraturan Telegram. Jika terkonfirmasi, kami harus memblokir saluran semacam itu, terlepas dari ukuran dan afiliasi politiknya," balas Durov.

Di waktu yang sama pula, Durov mengkonfirmasi bahwa channel Amadnews menginstruksikan pengikutnya untuk menggunakan molotov untuk melawan polisi. Pihaknya pun telah menangguhkan akun tersebut, sebagaimana yang diminta oleh pemerintah Iran.

Sekadar informasi, Telegram merupakan aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan di Iran. Dengan populasi penduduk 80 juta, pengguna Telegram di Iran mencapai lebih dari 40 juta. (mag/mag)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments