Selfie Bertaruh Nyawa, Tanda Gangguan Jiwa?

Jakarta - Selfie adalah bagian dari tren yang dilakukan banyak orang saat ini. Namun aktivitas yang mulanya dilakukan untuk bersenang-senang ini bisa berubah wujud menjadi sesuatu yang mengerikan.

Cukup banyak orang melakukan selfie di tempat-tempat berbahaya, mulai dari pinggir jurang, sampai di ketinggian. Nyawa pun menjadi taruhannya.

"Ketika orang melakukan sesuatu itu berkaitan dengan kognitif. Semakin tua seharusnya dia akan semakin baik dalam membuat keputusan. Kenapa bisa melakukan selfie ekstrem, biasanya ada drive (dorongan)," kata psikolog Ratih Zullhaqqi MPsi, dihubungi detikINET, Selasa (12/12/2017).

Drive, dijelaskan Ratih, dalam bahasa psikologi adalah dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu. Seseorang yang kejiwaannya tidak kuat, akan melakukan tindakan tanpa berpikir.

"Misalnya ketika lapar tapi gak punya uang. Orang yang baik dalam membuat keputusan akan tunggu dulu, cari cara untuk makan. Kalau yang buruk, dia misalnya bisa saja mencuri atau melakukan hal lain. Drive-nya rasa lapar," Ratih mencontohkan.

Selfie Bertaruh Nyawa, Buat Apa?Rooftoper asal China Yong Ning meninggal, setelah terjatuh dari lantai 62 (Foto: Yong Ning)

Selfie Ekstrem

Apa yang membuat seseorang melakukan selfie ekstrim? Menurut Ratih, hal itu sebenarnya merupakan bagian dari menunjukkan eksistensi diri.

Namun untuk sebagian orang, foto selfie biasa dianggap tidak cukup untuk menarik perhatian, sehingga mendorong untuk melakukan selfie di tempat-tempat ekstrem.

"Balik lagi ke tujuan dia selfie. Dia pikir melakukan yang ekstrem itu inspiratif dan bikin orang berdecak kagum dan banyak yang like. Ketika dia tidak bisa menahan dorongan itu, gak pakai mikir yang penting tren dulu," papar Ratih.

Ratih menyebutkan, selfie ekstrem banyak dilakukan oleh anak-anak muda. Usia ini adalah masanya mereka berusaha menemukan jati diri dan melakukan sesuatu tanpa berpikir.

Namun, tak sedikit pula pelaku selfie ekstrem di luar kalangan remaja. Menurut Ratih, orang-orang ini didorong oleh rasa butuh apresiasi.

Selfie Bertaruh Nyawa, Buat Apa?Foto: Instagram/angela_nikolau

Efek Jera

Dengan banyaknya kasus kecelakaan bahkan kematian akibat selfie, Ratih berharap hal ini menimbulkan efek jera bagi orang lain yang melihatnya.

Di sisi lain, patut diwaspadai bahwa fenomena ini malah menginspirasi sebagian orang untuk menirunya dengan motif ingin menjadi terkenal dan viral.

Menurut Ratih, perlu peran banyak pihak untuk mencegah fenomena semacam ini berulang. Peran orangtua, dikatakan Ratih sebagai pemegang kendali pertama.

"Dari level orangtua ngasih edukasi bijak menggunakan gadget. Ketika mereka berpikir anaknya sudah perlu diberi gadget, harus siap konsekuensi untuk memperkenalkan cara memanfaatkannya dengan baik," sebut Ratih.

Orangtua pun diminta Ratih untuk rajin berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Pada dasarnya, melakukan hal ekstrem adalah wujud mencari perhatian.

"Orangtua harus aware. Lebih baik introspeksi bahasa cinta ke anak sudah tepat atau belum? Jangan-jangan selama ini hanya sibuk menuntut dari anak dan lupa tidak menghargai mereka," pungkasnya. (rns/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments