'Orang Indonesia Gampang Percaya Internet'

Jakarta - Masyarakat Indonesia masih percaya begitu saja informasi yang tersedia di internet. Padahal informasi tersebut belum tentu benar adanya.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Semuel Abrijani Pangerapan, mengutip hasil survei yang dilakukan oleh CIGI-Ipsos pada 2016 yang dirilis pada 2017. Isinya, 65% orang Indonesia menelan mentah-mentah informasi yang ada di internet.

Sebagai informasi, pengguna internet di Indonesia berdasarkan hasil riset APJII pada 2016 berada di angka 132,7 juta. Sedangkan, CIGI-ipsos yang berasal Kanada bekerjasama dengan beberapa lembaga yang mengambil sampel di 24 negara, termasuk Indonesia.

"15% itu langsung percaya, 50% itu percaya, jadi total ada 65% yang percaya informasi begitu saja di internet. Ini menempatkan Indonesia di posisi ke tujuh," ujar Semuel di Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (18/12).

"65% dari total pengguna internet yang 132 juta, itu percaya bahwa informasi di internet benar. Kita tahu ini sangat berbahaya kalau tidak dibarengi dengan literasi digital," sambungnya.

Dari survei CIGI-ipsos ini juga menemukan kalau orang Indonesia percaya dengan apa yang dikatakan pemerintah. Setidaknya ada 81% mengatakan informasi yang diberikan pemerintah sesuai dengan kenyataan.

Menariknya lagi, tingkat kepercayaan warga terhadap pemerintah ini membuat Indonesia berada di posisi pertama dari 24 negara yang dilakukan survei.

"Indonesia menduduki tempat pertama dengan 28% sangat percaya dengan pemerintah dan 53% itu menyatakan agak setuju hingga 81% pengguna internet di Indonesia percaya apa yang dikatakan oleh pemerintah," kata mantan Ketua APJII ini.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Kominfo mengalakkan literasi digital kepada masyarakat. Tujuannya dapat mengatasi konten negatif seperti hoax, perudungan, radikalisme, pornografi, SARA, dan sebagainya.

"Dampak teknologi tanpa literasi bisa mengakibatkan keresahan di masyarakat, di mana konten bisa difabrikasi itu berbahaya sekali. Nah, gimana kita literasi masyarakat supaya penggunaan internet itu produktif. Teknologi bukan pengendali tapi manusianya adalah pengendali," ujar Semuel.

Bentuk literasi digital oleh Kominfo ini dilakukan dari hulu ke hilir. Untuk di hulunya, Semuel mengatakan Kominfo melakukan edukasi, literasi digital. Sedangkan di tengahnya ada pendampingan berkelanjutan oleh komunitas. Sementara, di hilirnya berupa penegakkan hukum.

Untuk mewujudkan agenda tersebut, Kominfo melakukan berbagai cara. Mulai dari kolaborasi dan keterlibatan pihak terkait, membuat kurikulum tentang digital, pemberdayaan komunitas-komunitas yang berperan sebagai 'lentera' di masyarakat, hingga cyber governance.

Penggalakkan melek internet terhadap masyarakat ini dilakukan Kominfo selama tiga tahun ke depan. Pria yang disapa Semmy ini mengatakan tugas Aptika itu berkaitan dengan literasi dan pengendalian.

"Untuk sekarang, pengendalian tinggi tapi literasi rendah. Nanti kalau literasi tinggi pengendalian rendah, karena itu pengendalian paling ampuh. Pada saat orang terekspos dengan konten negatif, mereka sudah bisa mengendalikan diri," tuturnya. (rns/rns)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments