Manusia Bisa Bertelepati Berkat Teknologi Microchip di Masa Depan

JAKARTA - Manusia kelak mungkin bisa berkomunikasi dengan telepati jika teknologi ‘brain augmentation’ menjadi kenyataan. Sebuah 'brain-computer interface' dapat memungkinkan manusia berkomunikasi secara telepati dan mampu memecahkan masalah yang kompleks hanya dalam waktu beberapa detik.

Teknologi dengan menanam microchip di otak manusia diduga bisa terjadi dalam 15 tahun yang akan datang. Chip tersebut memperkenankan manusia untuk mendapatkan atau menghapus ingatan, dan nantinya akan sepopuler smartphone, menurut Bryan Johnson, seorang ahli yang sedang mengerjakan teknologi semacamnya.

BERITA TERKAIT +

Johnson, yang merupakan pendiri Kernel, sebuah start-up yang mengembangkan microchip otak, mengatakan bahwa membuka kekuatan pikiran adalah 'satu hal terbesar' yang dapat manusia capai.

Baca juga: Ilmuwan Bikin Teknologi Komunikasi 'Telepati'

“Saya berharap 15-20 tahun lagi kita akan memiliki seperangkat alat yang cukup kuat untuk otak sehingga kita bisa mengajukan pertanyaan apapun yang kita inginkan. Contohnya, bisakah saya memiliki ingatan yang sempurna? Bisakah saya menghapus ingatan saya? Bisakah saya meningkatkan tingkat belajar saya, bisakah saya memiliki otak untuk komunikasi otak?,” jelasnya.

Ia menganggap teknologi baru ini merupakan 'kebutuhan' bagi masa depan umat manusia. Artikel in-depth oleh Katue Collins di Cnet menyampaikan bahwa ini memungkinkan manusia untuk bertelepati. Johnson pun yakin microchip tersebut kelak dapat dimiliki manusia layakanya perangkat smartphone saat ini.

Baca juga: Mantan Eksekutif Facebook Ingin Bikin Telepati Jadi Nyata

"Saya tidak mengerti mengapa hal itu tidak menjadi fokus tunggal umat manusia, karena semua yang kita lakukan itu berasal dari otak kita," tukas Johnson. Kernel saat ini sedang mengerjakan bentuk dasar perangkat implan otak untuk penggunaan medis pada manusia.

Perusahaan tersebut sudah mulai melakukan tes dengan pasien epilepsi di rumah sakit. Kepada IEEE Spectrum, Dr. Berger menyampaikan bahwa mereka sedang mengujinya pada manusia dan sejauh ini hasil awalnya baik.

"Kita akan maju dengan tujuan mengomersilkan prostesis (bagian tubuh buatan) ini," ujarnya. Namun, sebelum dikembangkan untuk orang sehat, perusahaan berharap perangkat tersebut akan digunakan untuk perbaiki ingatan orang-orang pengidap penyakit degeneratif, seperti Alzheimer.

Johnson menyampaikan pada New Scientist bahwa gagasannya, yaitu jika manusia kehilangan fungsi ingatannya, maka bisa menggunakan prostesis pada hippocampus yang akan memulihkan ingatannya. Demikian dilansir dari Daily Mail, Jumat (15/12/2017).

(ahl)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments