Langka, Ini Spesies Burung Hibrida Pertama di Amazon

BRASILIA - Burung golden-crowned manakin, atau manakin bermahkota emas adalah burung yang sulit ditemukan, berhabitat di Amazon selatan-tengah. Burung ini merupakan spesies hibdrida yang pertama kali ditemukan di hutan hujan. Hibrida merupakan generasi hasil dari persilangan antara dua atau lebih populasi yang berbeda.

Burung yang pertama kali terlihat pada 1957 adalah keturunan yang telah lama hilang dari spesies manakin opal-crowned (bermahkota opal), dan manakin snow-capped (bertopi salju). Serangkaian studi genetik dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Toronto, Scarborough.

BERITA TERKAIT +

“Spesies tanaman hibrida sangatlah umum, tetapi spesies hibrida pada vertebrata (hewan bertulang belakang) langka sekali,” kata Jason Weir, penulis utama penelitian tersebut.

Baca juga: Evolusi Dinosaurus Bersisik Menjadi Burung Berbulu

Meskipun manakin bermahkota emas tinggal jauh dari spesies induknya, para peneliti menduga bahwa mereka terpisah selama zaman es di masa lalu ketika hutan hujan berkontraksi dan sungai-sungai yang luas terbentuk menjadi pembatas alami.

"Tanpa isolasi geografis, kemungkinan besar hal ini tidak akan pernah terjadi karena Anda tidak melihat hibrida tersebut berkembang sebagai spesies terpisah di daerah lain, di mana kedua asal spesies bertemu," tuturnya.

Baca juga: Mengapa Burung Beo Bisa Berbicara?

Penemuan tersebut berlangsung setelah tim penelitian meluncurkan dua ekspedisi terpisah ke Brasil. Mereka mengumpulkan sampel genetik dan bulu, lalu mengurutkan sebagian besar genom manakin bermahkota emas.

Temuan yang akan dipublikasikan di jurnal PNAS itu mengungkap, 80% genom manakin bermahkota emas berasal dari manakin bermahkota opal, dan 20% sisanya dari manakin bertopi salju. Mereka mengatakan, keturunan pertama hibrida lahir sekira 180.000 tahun lalu, ketika burung dari dua spesies tersebut dikawinkan.

Penampilan tiga spesies ini sangat mirip. Namun, manakin bermahkota emas, memiliki kepala berbulu kuning yang kusam, sementara orangtuanya (manakin bertopi salju dan manakin bermahkota opal) masing-masing mempunyai bulu putih cerah dan berwarna-warni.

Untuk memahami perbedaan ini, para peneliti menganalisis struktur keratin (protein yang bertanggungjawab untuk menciptakan warna bulu yang sangat reflektif) dari ketiga spesies. Mereka menemukan, kedua orang tua burung tersebut menghasilkan keturunan dengan bulu yang kusam.

Menurut para peneliti, burung unik ini awalnya berbulu putih atau abu-abu yang kusam lalu berubah menjadi kuning karena berevolusi seiring berjalannya waktu.

The International Union for Conservation of Nature telah mengklasifikasikan manakin bermahkota emas sebagai spesies yang terancam, yang bisa punah karena lenyapnya habitat akibat penghabisan hutan hujan untuk penebangan dan peternakan.

(ahl)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments