Ilmuwan Ciptakan Tanaman Bercahaya dengan Nano Partikel

WASHINGTON DC - Para ilmuwan di MIT dalam tim riset yang dipimpin oleh peneliti pascadoktoral, Seon-Yeong Kwak, telah menciptakan selada air yang bercahaya, tanpa memodifikasi tanaman tersebut. Mereka berharap, suatu saat penelitian mereka ini mampu mengurangi pemakaian lampu listrik.

"Visinya adalah membuat tanaman yang akan berfungsi sebagai lampu meja – lampu yang tidak perlu Anda pasang. Daya cahayanya berasal dari metabolisme energi tanaman itu sendiri," kata penulis senior Michael Strano.

BERITA TERKAIT +

Pada 2013, sebuah kickstarter yang menjanjikan menciptakan tanaman bercahaya rekayasa genetika, menghasilkan USD484.013. Saat ini, proyek tersebut telah tenggelam, tetapi memicu munculnya penelitian selanjutnya.

Baca juga: Keren! Tanaman "Disulap" Miliki Sensor Penanda Radiasi

Pada 2014 para peneliti di sebuah perusahaan biotek mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan tanaman tembakau rekayasa genetika yang menghasilkan cahaya samar.

Tim MIT mengambil langkah yang berbeda. Selama beberapa tahun terakhir, laboratorium Strano telah mengerjakan sebuah penelitian yang disebut tanaman nanobionik. Penelitian tersebut mencakup penanaman nanopartikel pada sel tumbuhan, yang berfungsi melakukan tugas tertentu.

Pertama, partikel-partikel tersuspensi dalam larutan cair. Kemudian tanaman itu terendam dalam larutan, dan diberi tekanan udara. Dengan begitu, stromatanya terbuka dan memungkinkan nanopartikel masuk.

Baca juga: Daftar Tanaman Karnivora yang Ada di Dunia, Apa Saja?

Dengan teknik ini, laboratorium tersebut sebelumnya telah menghasilkan tanaman yang dapat mendeteksi bahan peledak, dan tanaman yang dapat memantau kondisi kekeringan. Untuk tanaman bercahaya, tim memasukkan nanopartikel dengan enzim luciferase dan molekul luciferin, bahan kimia yang menghasilkan bioluminiscence pada kunang-kunang dan ubur-ubur.

Mereka juga menambahkan molekul co-enzyme A, yang menghilangkan produk sampingan yang dapat menghambat aktivitas luciferase.

Para peneliti mengenalkan nanopartikel ke Nasturtium officinale, atau selada air. Cahaya yang dihasilkan cukup rendah – setengah dari cahaya LED 1-microwatt, dan sekira seperseribu cahaya yang dibutuhkan untuk membaca. Tim tersebut juga percaya bahwa mereka dapat meningkatkan tingkat cahaya yang dihasilkan. Awalnya, tanaman itu bersinar selama sekira 45 menit, tetapi telah meningkat menjadi 3,5 jam.

“Pekerjaan kami sangatlah membuka peluang untuk nantinya lampu-lampu jalan tergantikan oleh pohon yang bercahaya, dan juga di penerangan sekitar rumah,” ujar Strano.

Penelitian ini didanai oleh Departemen Energi AS, dan telah dipublikasikan di jurnal Nano Letters. Demikian dinukil dari Science Alert, Senin (18/12/2017).

(ahl)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments