Bobol 18 Bank, Hacker Rusia Curi Dana Rp135 Miliar

JAKARTA – Sekelompok hacker asal Rusia diam-diam mencuri dan menggondol hampir USD10 juta atau sekira Rp135 miliar. Dana curian tersebut berasal dari setidaknya 18 bank di Amerika Serikat (AS) dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir.

Para hacker menargetkan sistem transfer antar bank, sebagaimana diungkap firma keamanan Group-IB, yang berbasis di Moskow. Firma itu memperingatkan bahwa serangan itu dimulai 18 bulan lalu dan memungkinkan uang dicuri dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM).

BERITA TERKAIT +

Baca: Terungkap, Hacker Uber Ternyata Pemuda Berusia 20 Tahun

Tak hanya itu, Group-IB juga mengungkap bahwa bank-bank di Amerika Latin kemungkinan menjadi sasaran selanjutnya.

Menurut peneliti firma tersebut serangan pertama terjadi pada 2016 dengan membobol jaringan "STAR" First Data, sistem pesan bank AS terbesar yang menghubungkan ATM di lebih dari 5.000 organisasi.

Group-IB menyebut kelompok hacker itu “MoneyTaker”. Kelompok ini disebut tekag mengidentifikasi 18 bank yang terdampak pelanggaran termasuk 15 bank di 10 negara bagian AS, dua di Rusia dan satu lagi di Inggris. Tak hanya bank, MoneyTaker juga menargetkan perusahaan software dan satu firma hukum.

Dari 14 bank yang dibobol, rata-rata MoneyTaker mendapatkan USD500.000 dalam setiap aksinya melalui ATM.

Akibat pelanggaran yang dilakukan sekelompok hacker itu, Rusia mengalami kerugian rata USD1,2 juta per insiden. Namun satu bank berhasil menghentikan serangan itu dan mengembalikan sebagian dari dana yang dicuri mereka.

Baca juga: Hacker Ini Mengaku Bobol Ratusan Juta Akun Yahoo!

Para hacker yang tak dikenal ini menggunakan campuran tools dan trik yang terus berubah demi menghindari antivirus dan software pengamanan tradisional lainnya. Untuk menyamarkan gerakan mereka, hacker juga menggunakan sertifikat keamanan dari merek seperti Bank of America, the Fed, Microsoft dan Yahoo.

Group-IB sendiri mengajak Interpol dan Europol untuk membantunya melakukan penyelidikan demi menegakan hukum bagi hacker yang merugikan banyak negara tersebut. Demikian seperti dilansir Reuters, Selasa (12/12/2017). (lnm).

(kem)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments