5G Meluncur di 2019, Penggunanya Tembus 1 Miliar di 2023

Jakarta - Jaringan 5G diproyeksi oleh Ericsson akan meluncur secara komersial untuk pertama kalinya pada 2019 di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan China.

Dalam kurun waktu empat tahun sejak peluncuran, atau pada 2023 mendatang, vendor jaringan asal Swedia itu memprediksi akan ada satu miliar pengguna yang beralih ke akses mobile broadband 5G New Radio secara global.

"Kemudian, 5G akan mencakup lebih dari 20% populasi global enam tahun dari sekarang," demikian seperti dikutip detikINET dari Ericsson Mobility Report 2017, Selasa (19/12/2017).

Selain merilis proyeksi masa depan akses jaringan seluler, Ericsson juga memberikan update tentang layanan 4G LTE yang saat ini masih jadi andalan di semua negara, termasuk Indonesia.

Pada akhir 2017 ini, LTE akan menjadi teknologi akses mobile yang dominan. LTE diperkirakan mencapai 5,5 miliar pelanggan dan mencakup lebih dari 85% populasi dunia pada akhir 2023.

Voice over LTE (VoLTE) pun telah diluncurkan di lebih dari 125 jaringan di lebih dari 60 negara di seluruh wilayah. Pelanggan VoLTE pun diproyeksikan mencapai 5,5 miliar pada akhir 2023, terhitung lebih dari 80% gabungan dari pelanggan LTE dan 5G.

Lalu lintas data seluler global pun diproyeksi melampaui 100 Exabytes per bulan di tahun 2023 atau melonjak delapan kali selama periode perkiraan. Ini bisa disamakan dengan pemutaran streaming video HD selama 5,5 juta tahun.

Semua wilayah mempertahankan pertumbuhan lalu lintas data seluler, dengan Amerika Utara menunjukkan penggunaan rata-rata tertinggi untuk setiap smartphone yaitu melebihi 7GB per bulan pada akhir 2017.

Lonjakan Streaming Video

Konsumsi video terus mendorong pertumbuhan lalu lintas mobile broadband. Kekuatan pendorong di balik lonjakan tren video adalah kamu milenial muda yang berusia 15 sampai 24 tahun. Mereka tercatat melakukan streaming 2,5 kali lebih banyak daripada usia di atas 45 tahun.

Streaming video dalam resolusi yang lebih tinggi dan kecenderungan peningkatan format video immersive, seperti video 360 derajat, akan berdampak pada volume konsumsi lalu lintas data.

Misalnya, sebuah video Youtube 360 derajat menggunakan bandwidth 4 sampai 5 kali lebih banyak dibanding video YouTube biasa dengan kualitas yang dianggap sama.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sendiri hingga saat ini masih berkutat dengan layanan 3G dan 4G LTE untuk akses data. Untuk spektrum 5G, pemerintah masih belum berhasil membebaskan spektrum 700 MHz yang masih dikuasai oleh TV terestrial.

Namun, 5G nantinya diproyeksi akan menghasilkan tambahan 30% pertumbuhan pendapatan potensial bagi operator di Indonesia pada tahun 2026, menurut studi Ericsson ini. (rou/rou)

Berita Terbaru Hari Ini

Comments